NEWSTICKER

Tag Result: partai politik

Jokowi Bakal Hadir di Rakernas PDIP

Jokowi Bakal Hadir di Rakernas PDIP

Nasional • 2 months ago

PSI Dinilai Abaikan Proses Kaderisasi

PSI Dinilai Abaikan Proses Kaderisasi

Nasional • 2 months ago

Gus Imin: Welcome to The Jungle Kaesang

Gus Imin: Welcome to The Jungle Kaesang

Nasional • 2 months ago

Jakarta: Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar memberikan selamat berjuang kepada Kaesang Pangarep yang baru saja resmi menjadi Ketua Umum PSI. Bacawapres Aies Baswedan ini menyebut kekuatan PSI di bawah kepemimpinan Kaesang perlu dipertimbangkan.
 
“Welcome to the jungle, selamat berjuang di dunia politik. Tentu ini menjadi kekuatan yang patut dipertimbangkan buat kita semua untuk menyambut dengan serius,” kata Gus Imin kepada Metro TV.
 
Kaesang sendiri menyebut PSI belum menentukan arah dukungan kepada siapa calon presiden yang akan didukung di Pilpres 2024. Anak bungsu Presiden Joko Widodo ini menyebut masih berkoordinasi dengan seluruh kader PSI.
 
“Berkoordinasi dengan seluruh DPD dan DPW, mereka inginnya apa. Kita juga sambil menunggu siapa yang terbaik untuk kita dukung ke depannya,” sebut Kaesang.  
 
Kaesang menambahkan, yang terpenting calon presiden yang akan didukung memiliki visi dan misi yang sama dengan PSI. “Yang penting siapa yang kita dukung visi dan misinya sama dengan PSI.

BRIN Sebut Data Intel soal Parpol Penyalahgunaan Wewenang

BRIN Sebut Data Intel soal Parpol Penyalahgunaan Wewenang

Nasional • 3 months ago

Badan Riset dan Inovasi (BRIN) menilai, pengakuan Presiden Joko Widodo yang memegang data internal partai politik (parpol) dari intelijen merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang. Sebab, presiden menggunakan badan intelijen untuk memata-matai parpol.

Jokowi seyogianya menggunakan intelijen untuk mendeteksi ancaman atau rencana makar terhadap kepemimpinannya. Kehadiran badan intelijen bukan untuk memantau aktivitas parpol.

"Eksistensi badan intelijen itu sama sekali bukan untuk ngurusin partai politik. Tupoksi sejatinya intelijen itu untuk pengamanan negara dari segala macam ancaman," kata peneliti senior Pusat Riset Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Firman Noor dalam diskusi virtual, Kamis, 21 September 2023. 

Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan ke publik terkait pengetahuannya terhadap data intelijen. Jokowi menyampaikan kepada relawan bahwa dirinya mengantongi data intelijen pergerakan semua partai politik.

"Saya tahu dalamnya partai seperti apa saya tahu, partai-partai seperti apa saya tahu. Ingin mereka menuju ke mana juga saya ngerti," kata Jokowi ketika membuka Rapat Kerja Nasional Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi di Hotel Salak, Bogor, Sabtu, 16 September 2023.

Editorial Malam:  Lompat Pagar Spionase Negara

Editorial Malam: Lompat Pagar Spionase Negara

Nasional • 3 months ago

Organisasi intelijen yang seharusnya menjadi alat untuk memata-matai musuh negara telah lompat pagar di era pemerintahan Joko Widodo. Sekurang-kurangnya tiga lembaga intelijen mulai dari Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS TNI), dan Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam Polri), malah berkeliaran bebas melakukan aksi spionase di tubuh partai politik di Indonesia.

Ini bukan tuduhan karena Presiden sendiri yang mengucapkan itu ketika menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (16/9/2023). "Dalamnya partai seperti apa saya tahu, partai-partai seperti apa saya tahu. Ingin mereka menuju kemana saya tahu. Informasi yang saya terima komplet," kata Jokowi.

Rupanya selama ini agen rahasia diam-diam ditanam untuk mengorek jeroan partai politik, sehingga Kepala Negara bisa dengan mudahnya mengetahui sepak-terjang, gerak-gerik, serta ke mana arah partai politik akan bergerak. Ini jelas sudah kabur dari misi suci para telik sandi. Undang-undang sejatinya mengamanatkan kepada mereka untuk mendeteksi adanya ancaman terhadap eksistensi sebuah negara, bukan malah mata-matai partai politik yang merupakan bagian penting dari demokrasi.

Pasal 4 dan 5 Undang Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara menyebut dengan jelas perihal tugas dan peran intelijen yakni mencari, mengumpulkan, menganalisis, dan menyampaikan informasi terkait ancaman keamanan nasional kepada pemimpin negara atau pemerintah. Berpijak pada aturan tersebut maka pemantauan terhadap partai politik menjadi bukti bahwa tugas intelijen melenceng dari esensi utama yaitu mengantisipasi ancaman dari pihak lawan. 

Publik kini menaruh tanda tanya besar kepada Presiden Jokowi. Apakah ia sudah menjadikan partai politik di Indonesia sebagai lawan sekaligus ancaman terhadap keamanan nasional? Deretan tanda tanya akan semakin panjang karena tidak ada ideologi terlarang yang dianut oleh 18 partai politik nasional serta 6 partai politik lokal Aceh yang menjadi peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Lalu apa urgensinya melakukan operasi intelijen terhadap partai politik di Indonesia? Musuh negara, jelas bukan karena partai politik merupakan salah satu pilar demokrasi di negeri ini. Menganut paham terlarang seperti komunisme juga tidak. Itu yang harus dijawab dengan terang-benderang oleh Jokowi soal sesumbarnya mendapat informasi intelijen yang super lengkap terkait dengan gerak-gerik partai politik. 

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan yang prihatin dengan isu tersebut mengirim sinyal telah terjadi pelanggaran undang-undang oleh Kepala Negara. Pasal 1 angka 1 dan 2 UU Intelijen Negara dengan tegas mengatur bahwa informasi intelijen itu seharusnya terkait dengan musuh negara atau masalah keamanan nasional dan bukan terkait dengan masyarakat politik serta juga masyarakat sipil.

Koalisi bahkan menilai tindakan Jokowi justru merupakan ancaman bagi kehidupan demokrasi dan HAM di Indonesia. Kuat dugaan bahwa telah terdapat indikasi adanya penyalahgunaan kekuasaan terhadap alat-alat keamanan negara untuk melakukan kontrol dan pengawasan demi tujuan politiknya. Kekhawatiran mereka sangatlah beralasan karena belum lama ini Jokowi terang-terangan akan melakukan cawe-cawe politik. Hal itu disampaikan Jokowi saat bertemu dengan para pemimpin redaksi sejumlah media serta content creator di Istana Negara, Senin (29/5/2023). 

Oleh karena itu, publik berhak gerah, pantas khawatir, karena benang merahnya sudah semakin terlihat jelas. Mulai dari cawe-cawe politik sampai soal maraknya aktivitas intelijen di tubuh partai politik. Kita harus katakan dengan lantang agar itu semua harus segera dihentikan. Biarkan partai politik bekerja dan berkarya tanpa harus dimata-matai oleh negara. Pak Jokowi, jangan karena sedang berkuasa bisa seenak-enaknya menggunakan alat negara demi syahwat politik semata. Sudahlah!

Mantan Kabais: Presiden Jokowi Bebas Pakai Data Intelijen

Mantan Kabais: Presiden Jokowi Bebas Pakai Data Intelijen

Nasional • 3 months ago

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B Ponto mengungkap bahwa Presiden Joko Widodo bebas menggunakan data-data yang dimiliki, termasuk data dari intelijen. Menurutnya, hal itu tidak dilarang. 

"Intelijen itu diminta tidak diminta melaporkan apa saja kepada presiden. Lalu presiden mau menggunakan apa tidak, itu haknya presiden, tidak ada larangan," kata Soleman dalam tayangan Primetime News, Metro TV, Senin, 18 September 2023. 

Soleman menuturkan bahwa intelijen bertanggung jawab atas data-data yang telah dilaporkan kepada Presiden. Ia bahkan menduga ada partai politik yang mempunyai potensi membahayakan keamanan negara.

"Makanya presiden harus tahu apa yang dilakukan, jangankan partai politik, semua orang yang ada di negeri ini punya potensi untuk itu (membahayakan negara)," ujarnya. 

Mantan Kabais itu juga menilai intelijen bisa melihat sesuatu yang tidak telihat oleh orang lain. Ia berasumsi tidak mungkin orang baik semua. Pasti ada yang jahat. 

"Yang dilarang itu nantinya perbuatanya, perbuatannya harus berdasarkan fakta hukum," ucap Soleman.

Sementara itu, Analis Politik Sabang Merauke Circle Syahganda Nainggolan menyebut tindakan Presiden Joko Widodo yang menyebut punya data-data intelijen partai politik merupakan bentuk cawe-cawe dan pelanggaran etika. Ia menduga Presiden Joko Widodo ingin menggertak pihak tertentu. 

"Menurut saya ini meresahkan, sebaiknya presiden sekarang menarik diri dari urusan Pilpres 2024," kata Syahganda.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan dirinya telah memegang data lengkap parpol termasuk mengetahui ke mana arah parpol pada pemilu 2024. Hal itu diungkapkan di hadapan para relawan di Bogor, Jawa Barat pada 16 September 2023.

Presiden menyebut, memperoleh informasi tersebut dari beberapa pihak seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen dan Keamanan Polri hingga Badan Intelijen Strategis TNI. Presiden juga mengaku menerima informasi dari pihak di luar lembaga-lembaga tersebut. 

Pernyataan presiden awalnya menyinggung masalah faktor kepemimpinan yang dinilai sangat menentukan Indonesia menjadi negara maju. Presiden mengingatkan para relawan tidak salah pilih pemimpin pada pilpres 2024. 

"Saya tahu dalemnya partai-partai seperti apa, ingin mereka menuju ke mana saya juga ngerti. Informasi yang saya terima komplit, dari Intelijen Negara (BIN) saya ada, Badan Intelijen Polri ada, dari Intelijen TNI saya punya dan informasi-informasi di luar," ucap Presiden Joko Widodo.

Visi Negarawan - Surplus Politisi, Defisit Negarawan

Visi Negarawan - Surplus Politisi, Defisit Negarawan

Nasional • 3 months ago

Demokrasi pasti menghasilkan perbedaan pandangan, gagasan, hingga arah dukungan. Kompetisi untuk meraup simpati membuat masyarakat terpolarisasi, namun gestur politik para kandidat capres setidaknya memberi harapan Pilpres 2024 akan jauh dari ketegangan.

Demokratisasi di era reformasi membuka peluang untuk menjadi politisi. Pemilu 2024 mendatang akan diikuti 24 partai politik lokal maupun nasional, 9.900 caleg dan 674 calon anggota DPD yang akan bertanding di 38 provinsi.

Surplus politisi di Indonesia tidak dibarengi oleh jiwa negarawan. Secara sederhana politisi mengejar kekuasaan untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Sementara negarawan mengabdikan jiwa raga untuk kepentingan bangsa dan negara.

Politik elektoral menciptakan demokrasi bernuansa kapitalistik dengan mengucurkan modal besar untuk memoles pencitraan. Bahkan bila perlu ada juga yang sampai membeli dukungan. Akibatnya jabatan dimanfaatkan untuk mengejar balik modal.

6 Parpol Gagal Penuhi Kuota Caleg

6 Parpol Gagal Penuhi Kuota Caleg

Nasional • 3 months ago

KPK Diminta Tak Takut Tangkap Harun Masiku

KPK Diminta Tak Takut Tangkap Harun Masiku

Nasional • 3 months ago